Langsung ke konten utama

Pelatihan Pengendalian Kebakaran Hutan



musim hujan telah berlalu dan kemarau pun tiba …

Pada musim kemarau, resiko terjadinya kebakaran hutan sebagai salah satu penyebab kegagalan kegiatan penanaman dalam pengelolaan hutan lestari semakin meningkat. Kebakaran dapat terjadi karena ketersediaan 3 komponen yaitu bahan bakar, oksigen dan sumber api. Sumber api penyebab kebakaran hutan dapat berasal dari puntung rokok yang masih menyala, pembakaran dalam pembuatan arang kayu, api untuk membakar gulma di lahan dan api unggun untuk penghangat badan orang yang menginap di hutan, sedangkan tanaman yang mengering dan dedaunan kering merupakan bahan yang mudah terbakar sehingga berpotensi menimbulkan kebakaran hutan.

Lahan anggota yang termasuk dalam kawasan hutan rakyat KAM KTI umumnya berada dekat dengan areal pemukiman dan kita wajib mencegah agar tidak terjadi kebakaran hutan yang menimbulkan dampak merugikan bagi lingkungan sekitar. Tindakan pencegahan antara lain dengan menjauhkan sumber api yang dapat menimbulkan kebakaran hutan, misalnya :
1.       Dilarang membuka lahan dengan cara membakar
2.       Apabila membuat api di  lahan, harus diawasi hingga api padam
3.      Meminimalisir sisa penebangan & dedaunan kering di lahan
4.      Dilarang membuang puntung rokok yang masih menyala di area hutan

Upaya mengajak masyarakat menghindari kebakaran

Sebagai tindakan antisipasi, KAM KTI memberikan pelatihan pengendalian kebakaran hutan secara mandiri pada perwakilan kelompok, dengan mempergunakan peralatan sederhana seperti gepyok, timba, karung goni basah dan cara penggunaan APAR (alat pemadam api ringan).


Pelatihan pemadaman kebakaran menggunakan APAR


Pelatihan K3

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan tanggung jawab bersama antara manajemen hutan lestari KAM KTI dan semua pekerja. Setiap pekerjaan yang dilakukan dibawah pengawasan KAM KTI mulai dari kegiatan penanaman, pemeliharaan, penebangan dll, diwajibkan memakai alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi resiko dan dampak apabila terjadi kecelakaan pada saat bekerja.

APD yang biasa dipergunakan antara lain berupa sepatu/boots, sarung tangan, helm kerja, kacamata/goggle, masker & earplug/pelindung telinga yang wajib dipakai sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. APD ini tersedia di tiap-tiap kelompok dan dapat dipergunakan oleh anggota melalui koordinasi dengan FK (Ketua Kelompok).

Demonstrasi pemakaian APD bagi pekerja
Pelatihan K3 dilakukan untuk meningkatkan kesadaran anggota dan masyarakat sekitar akan pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja serta membudayakan penggunaan APD dalam setiap kegiatan pengelolaan hutan rakyat lestari. 
S a f e t y   f i r s t !!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapuk Hutan (Bombax ceiba L.)

Gambar pohon Kapuk Hutan di Sengkaling Malang Jawa Timur Sinonim : Bombax malabaricum DC., Gossampinus heptaphylla BAKH, Salmalia malabarica (DC) Schott & Endl. Nama Lain : Cottonwood (perdagangan), Kapuk hutan (Indonesia), Randu agung (Jawa). Penyebaran : Dari Pakistan dan India kemudian Myanmar, Indochina, China, Taiwan, Thailand, Jawa, Kalimantan (Sabah), Philipina, Sulawesi, Maluku, Papua dan Australia bagian Utara. Batang besar tergolong raksasa rimba dengan tinggi sampai 45 m dan besar batang 4 meter dengan banir-banir lebar dan alur-alur menaik tinggi, selain itu batangnya tegap bagaikan tiang dan bertajuk jarang yang terbentang agak tinggi. Di Jawa tumbuh dibawah ketinggian 900 mdpl. Menurut Ny. Kloppenburg cairan yang keluar dari akar-akar setelah diiris sebelum matahari terbit dapat dipakai sebagai obat minuman untuk sariawan dan seduhan dari kulit akarnya yang dimemarkan itu diminum untuk meredakan rasa panas dalam daerah lambung. Penggunaan : Kapuk tergolong...

PELATIHAN K3 DAN PEMAKAIAN APD BAGI PEKERJA PERSEMAIAN KAM KTI

Persemaian ( nursery ) adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan. Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari penanaman hutan sehingga persemaian memegang peranan sangat penting dan merupakan kunci utama dalam upaya mencapai keberhasilan penanaman hutan. Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung (direct planting) dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-biji (benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut sebaiknya disemaikan terlebih dulu. Pemilihan Lokasi Persemaian Keberhasilan persemaian benih ditentukan oleh ketepatan dalam pemilihan tempat. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa persyaratan memilih tempat persem...

Rapat Anggota Tahunan Ke-17 Koperasi Alas Mandiri KTI: Tutup Buku 2024 dengan Capaian Positif dan Transparansi

  **PROBOLINGGO** – Koperasi Alas Mandiri KTI berhasil menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-17 dengan sukses pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025. Acara penting ini digunakan untuk menutup buku tahun fiskal 2024 sekaligus mempertanggungjawabkan kinerja pengurus kepada seluruh anggota. Dihadiri perwakilan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Probolinggo, jajaran pengurus, serta seluruh anggota koperasi, RAT berlangsung khidmat dan lancar, menegaskan komitmen koperasi terhadap prinsip keterbukaan dan kebersamaan. Laporan Keuangan Tahun 2024: Pertumbuhan Stabil dan Pengelolaan Efisien Salah satu puncak agenda RAT adalah penyampaian laporan keuangan tahun 2024 oleh pengurus. Data yang dipaparkan menunjukkan pencapaian yang membanggakan:   - Total Pendapatan: Rp. 2.237.059.957   - Total Beban: Rp. 2.224.259.332   Dari angka tersebut, Koperasi Alas Mandiri KTI berhasil mencatat surplus sebesar Rp. 12.800.625 Capaian ini mencerminkan...